Kamis, 21 April 2016

Resep Ibnu Khaldun Agar Indonesia Lebih Maju



Ibnu Khaldun sepanjang hidupnya mengabdi pada kerajaan di Afrika Utara dan melihat kesultanan bangkit dan runtuh. Ia berkesimpulan resep negara yang sukses dan langgeng adalah rasa kebersamaan atau solidaritas sosial yang disebutnya sebagai ashabiyah.

Ashabiyah berasal dari kata ashaba yang berarti mengikat. Ashabiyah ini diartikan sebagai ikatan sosial budaya, solidaritas sosial, solidaritas kelompok, atau nasionalisme.

Dalam buku The Muqaddimah (Mukadimah), Ibnu Khaldun menulis pemerintah yang tak lagi mengandalkan ashabiyah dalam menjalankan negara akibat terlalu terlena dengan kekuasaan, akan runtuh. Buku tersebut juga masuk dalam daftar bacaaan CEO Facebook Mark Zuckeberg.

Ibnu Khaldun juga menulis ashabiyah biasanya ada pada masa awal terbentuknya sebuah negara. Namun setelah berjalannya waktu, rasa kebersamaan itu akan luntur dan masing-masing mengejar kepentingannya sendiri.

Di Indonesia, ashabiyah ini sebenarnya bisa terlihat dalam perjuangan merebut kemerdekaan. "Ibnu Khaldun mengingatkan, bangsa yang tidak mengokohkan identitasnya tidak bisa maju," kata Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, Tiar Anwar Bachtiar, saat berbincang dengan detikcom.

Belajar dari Ibnu Khaldun, kata dia, Indonesia harus mencari dan memperkuat identitasnya sendiri dan jangan sekadar menyerap kebudayaan impor. Misalnya, Indonesia mayoritas muslim, maka identitas yang paling kokoh warisan sejarahnya adalah keislamanannya.

"Islam tidak tersekat oleh kultur tertentu, kalau dijadikan sebagai identitas, kemudian didialogkan dengan kebudayan Indonesia, menghasilkan gaya dalam menjalankan Islam khas Indonesia atau sekarang (istilah) populernya Islam nusantara," ungkap Dosen Pascasarjana di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor ini.

Menurut Tiar, identitas diri yang kuat itu akan membangkitkan kepercayaan diri bangsa sehingga Indonesia akan punya kesempatan menjadi bangsa yang terdepan. Terlebih saat ini Indonesia sedang menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
 
Tiar berpendapat pemikiran Khaldun masih relevan untuk Indonesia, salah satunya soal tuntutan pemimpin yang berintegritas.

"Kita perlu pemimpin yang berintegritas, percaya diri, dan sanggup membangkitkan kepercayaan diri masyarakat. Bukan pemimpin pembebek dan mudah dibeli oleh asing," tegasnya.


Pendapat: Menurut  Tiar Anwar Bachtiar yang merupakan Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, pemikiran Ibnu Khaldun masih relevan untuk Indonesia. Beberapa pemikirannya adalah pemikirannya tentang ashabiyah, pendapatnya bahwa bangsa yang tidak mengokohkan identitasnya tidak bisa maju, dan juga pemikirannya tentang pemimpin. Karena itulah menurut Tiar Indonesia harus mengokohkan kembali identitasnya sebagai bangsa dan mencari pemimpin yang berintegritas dan mampu membangkitkan kepercayaan diri masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar