Contoh Kasus:
Jakarta - Identitas tak sekadar data. Ia ibarat pintu ke mana saja. Tak ayal, identitas kini menjadi sasaran utama para dedemit maya.
Pasalnya,
identitas dapat dimanfaatkan menjadi 'kunci' ke dalam jaringan
perusahaan untuk kemudian mencuri kredensial dan data penting di dalam
jaringan tersebut.
Hasilnya kemungkinan besar digunakan untuk
kepentingan mereka masing-masing, yang tentunya bukan kegiatan mulia.
Indonesia sendiri merupakan salah satu lahan empuk bagi para penjahat
cyber untuk melancarkan aksinya.
Peningkatan celah yang dapat
ditembus pada perangkat mobile di Asia Pasifik, serta dengan
bertambahnya penggunaan internet banking di wilayah tersebut
mengakibatkan pertumbuhan ancaman serangan cyber yang semakin canggih.
Sebuah
studi menyebutkan bahwa 35% pelanggan perbankan di Asia Tenggara
(termasuk Indonesia) merasa sangat khawatir dengan pencurian identitas;
termasuk dengan pencurian data personal seperti rincian data bank,
identitas personal, alamat, dan tanda tangan yang dicuri melalui
website.
Dengan munculnya kasus pencurian identitas seperti yang
terjadi pada salah satu perusahaan perbankan terkemuka dunia dan
penjebolan kartu kredit yang terjadi pada bank-bank di Korea Selatan,
mengindikasikan bahwa industri FSI di wilayah Asia Pasifik menjadi salah
satu industri yang paling banyak diincar oleh para penjahat cyber.
Hal
ini cukup mencengangkan mengingat industri FSI di Asia merupakan salah
satu sektor yang paling dijaga keamanannya dengan regulasi yang didesain
berlapis-lapis.
Pencurian identitas bahkan telah menjadi umum di
antara penjahat cyber karena peningkatan kanal yang dapat diserang dan
bertambah canggihnya alat yang digunakan para pelaku.
Salah satu
faktor penyebabnya adalah semakin banyaknya perusahaan finansial yang
mengadopsi tren Bring Your Own Device (BYOD). Tanpa perlindungan dan
compliance yang baik, perangkat mobile yang digunakan karyawan pada
perusahaan yang mengadopsi tren BYOD dapat dijadikan media yang
dimanfaatkan penjahat cyber untuk bersembunyi, menyebar di dalam
jaringan perusahaan, dan mencuri identitas karyawan atau nasabah di
perusahaan perbankan tersebut.
Perluasan 'ruang bermain'
tersebut juga berarti penjahat cyber kini memiliki opsi lebih dalam
melakukan pencurian identitas, dan tak lagi ketergantungan dengan
software keylogging atau perlu menjebol database.
Root dan Jailbreak
Ancaman
yang semakin besar tersebut mendesak perusahaan untuk mengamankan
aplikasi yang bersinggungan dengan internet. Bila boleh menyarankan, hal
tersebut bahkan seharusnya menjadi prioritas utama perusahaan.
Terpenting,
perangkat yang sudah di-root (pada Android) atau di-jailbreak (iOS)
seharusnya tidak digunakan untuk mengakses aplikasi perbankan, atau
bahkan digunakan oleh karyawan perusahaan yang mengadopsi tren BYOD.
Hal
ini harus dilakukan karena perangkat tersebut juga dapat menjadi celah
baru bagi penjahat siber untuk mengakses jaringan perusahaan.
Strategi Proaktif
Karenanya,
penting bagi perusahaan baik di industri FSI maupun industri lainnya
untuk mengadopsi strategi pertahanan yang proaktif dalam mengamankan
jaringan perusahaan.
Mereka harus memiliki kebijakan keamanan
untuk perangkat mobile yang menentukan pedoman, prinsip dan praktik
bagaimana perangkat mobile diperlakukan, terlepas dari apakah fasilitas
kantor atau milik pribadi.
Kebijakan ini juga seharusnya
melingkupi peran dan tanggung jawab, keamanan infrastruktur, keamanan
perangkat, dan penilaian keamanannya, serta tak lupa keamanan aplikasi
yang digunakan.
Dengan membangun kebijakan keamanan tersebut,
perusahaan dapat menetapkan kerangka kerja untuk menerapkan
praktik-praktik, alat, dan pelatihan untuk membantu mendukung keamanan
jaringan nirkabel.
Pelatihan karyawan tentang kebijakan keamanan
mobile juga dapat membantu perusahaan memastikan bahwa perangkat mobile
dapat digunakan dengan aman dan tepat selama di lingkungan perusahaan.
Sumber: http://inet.detik.com/read/2016/03/10/111556/3161456/323/mengapa-identitas-target-utama-dedemit-maya
Analisis:
Pada bagian awal artikel membahas tentang identitas pengguna internet yang menjadi sasaran para peretas atau 'dedemit maya' dalam lingkup yang umum. Paragraf-paragraf selanjutnya kemudian membahas tentang darimana ancaman itu berasal dan celah mana saja yang dapat menjadi ancaman bagi identitas pengguna internet. Berdasarkan ciri-ciri diatas maka dapat di simpulkan bahwa artikel ini menggunakan metode penalaran deduktif karena premis yang digunakan adalah premis umum lalu premis khusus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar